Remaja Sehat, Masa Depan Kuat: Pemberdayaan Kebidanan UNISA di Mergangsan

Membangun Masa Depan Remaja dari Mergangsan: Catatan Praktik Pemberdayaan Mahasiswa S2 Kebidanan

Sebagai mahasiswa Magister Kebidanan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, kami mendapat amanah besar untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu berkontribusi langsung bagi masyarakat. Salah satu wadahnya adalah melalui praktik mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat—praktik yang mengajarkan kami tentang empati, aksi nyata, dan refleksi mendalam.

Selama 14 hari, kami ditempatkan di Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, untuk mengangkat tema yang sangat penting dan kontekstual: "Kesehatan Reproduksi & Mental Remaja serta Pencegahan Pernikahan Dini." Remaja: Harapan Masa Depan yang Perlu Didampingi

Di tengah cepatnya arus informasi dan perubahan sosial, remaja menghadapi tantangan yang semakin kompleks—mulai dari tekanan akademik, krisis identitas, hingga keputusan besar yang bisa berdampak panjang seperti pernikahan dini. Sering kali, mereka berjalan sendirian tanpa cukup bekal pemahaman dan dukungan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Berangkat dari realita ini, kami merancang kegiatan edukatif yang menyasar dua kelompok penting:

1. Orang tua yang memiliki anak remaja

2. Remaja itu sendiri

Edukasi untuk Orang Tua: Membuka Ruang Dialog Keluarga

Dalam berbagai sesi yang kami fasilitasi, kami mengajak para orang tua untuk:

a. Lebih memahami perubahan psikologis dan biologis yang dialami remaja.

b. Menumbuhkan pola komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi.

c. Menyadari pentingnya dukungan emosional dan bimbingan moral dalam mencegah pernikahan dini.

Banyak orang tua yang menyampaikan bahwa mereka belum pernah mendapatkan pendekatan seperti ini sebelumnya. Mereka merasa terbantu untuk memahami anak-anaknya dan lebih siap menjadi pendamping, bukan sekadar pengawas.

Edukasi untuk Remaja: Ruang Aman untuk Bertanya dan Bermimpi

Bagi para remaja, kami hadir sebagai teman bicara yang netral dan ramah. Materi disampaikan dengan pendekatan partisipatif, non-doktriner, dan sesuai usia. Kami membahas isu-isu seperti:

a. Kesehatan reproduksi yang tidak tabu tapi penting.

b. Mengenal dan merawat kesehatan mental.

c. Menyusun cita-cita tanpa harus tergesa menikah.

d. Membangun kesadaran diri tentang batasan fisik dan emosional.

Respons mereka sangat positif. Banyak remaja yang akhirnya berani bertanya, menyampaikan keresahan, bahkan menuliskan harapan mereka di forum diskusi yang kami sediakan.

Praktik Berbasis Nilai: Antara Data, Agama, dan Etika Sosial

Kami tidak asal datang dan mengedukasi. Praktik ini dilakukan dengan pendekatan Human Technology Assessment (HTA), berbasis Evidence Decision Making (EDM) dan nilai-nilai Islam. Kami juga melakukan survei dan diskusi kelompok terlebih dahulu untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat.

Menuju Indonesia Emas 2045: Dimulai dari Sini

Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa membangun bangsa tidak selalu soal infrastruktur besar atau kebijakan tinggi. Kadang, ia dimulai dari ruang-ruang kecil:

  • Sebuah diskusi antara ibu dan anak.

  • Sebuah tanya-jawab hangat antara kakak dan adik.

  • Sebuah sesi edukasi yang mengubah cara pandang tentang masa depan.

Kami bangga bisa menjadi bagian kecil dari perubahan ini.

Sebuah Langkah, Banyak Harapan. Praktik pemberdayaan ini bukan hanya tugas akademik, tapi juga panggilan nurani. Sebagai calon magister dan calon pemimpin di bidang kesehatan, kami menyadari bahwa masa depan Indonesia tidak bisa menunggu. Ia harus dipersiapkan—hari ini, dimulai dari anak-anak dan remaja yang sehat jiwa raga, serta orang tua yang penuh pengertian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Praktik Mahasiswa Magister Kebidanan di Puskesmas Godean I: Orientasi Tempat Praktik

Ibu Bicara, Inovasi Berkarya

Akhir Praktik di puskesmas: Terima Kasih, Pengalaman Berharga dan Sebuah Harapan